oopss,… jangan salah sangka dulu yah,.. Dengan nulis judul artikel di atas, bukan berarti saya terus ikutan kontes SEO mengembalikan jati diri bangsa, cuma pengin menulis sesuatu yang kelihatannya menggugah perasaan saya. Tulisan ini terinspirasi dari sahabat saya di dunia blogging yaitu kang boed, yang berjudul mengembalikan jati diri bangsa.
Sebenarnya apa makna sebuah kalimat mengembalikan jati diri bangsa ? Jika tulisan saya ini nantinya kurang berkenan di hati anda saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, karena saya bukanlah pakar bahasa ataupun politik ataupun ahli filsafat. Jadi tulisan mengembalikan jati diri bangsa ini adalah opini pribadi 100% asli buah pemikiran saya.
Pertama kita ulas kata mengembalikan, di sini berarti ada sesuatu yang telah pergi, sesuatu yang sudah lama hilang. Sesuatu yang sudah tidak pernah dirawat sehingga akhirnya layu atau berkarat atau terpendam di dasar lautan. Bangsa ini rindu kepadanya, alam ini merindukan hal tersebut, bahkan hutan dan pepohonan pun berdzikir memohon kepada Allah SWT dan berdoa supaya dia kembali.
Apakah yang sebenarnya diharapkan itu ? Tidak lain dan tidak bukan adalah jati diri. Apakah jati diri yang asli dari bangsa ini sudah musnah ? Bagaimanakah jati diri bangsa ini di masa sekarang ? Apakah sudah berbeda dengan jati diri bangsa pada jaman dahulu?
Memang kalau kita lihat sekarang, adat dan budaya bangsa kita sudah banyak sekali berubah. Pada jaman saya kecil dahulu, setiap habis maghrib anak-anak kecil pergi ke surau untuk mengaji. Setelah selesai mengaji kemudian dilanjutkan dengan belajar pelajaran sekolah. Kalau sekarang anak-anak sudah di jejali dengan penuh sesaknya acara hiburan di TV. Mulai dari film anak-anak, sampai sinetron yang kita tahu sendiri lah kualitasnya.
Rasa mengedepankan diri sendiri pun sudah menonjol sekali. Egoisme, individualisme merebak. Kebanyakan Elite politik pun bertingkah seperti anak kecil. Sungguh tidak patut menjadi tauladan bagi rakyat. Dimana rasa saling menghormati, tolong-menolong, tepo-sliro, unggah-ungguh, ramah dan gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa ini sejak dulu? Benarkah sudah hilang ? Perbedaan pendapat seharusnya tidak menjadi alasan untuk perpecahan. Ingatlah Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa, Berbeda-beda tetapi tetap satu jua, tidak ada hukum yang mendua.
Terakhir, dalam artikel ini, saya hanya memohon kepada Allah SWT, supaya Bumi Indonesiaku di beri kedamaian. Hentikan kekerasa. Aku bersujud kepadamu ya Allah,…..
AMIIEENN,…….